Masa Depan Suram Bintang Muda dan Timnas di Balik Euforiamen

Masa Depan Suram Bintang Muda dan Timnas di Balik Euforia Turnamen

Kisruh “Masa Depan Suram Bintang Muda dan Timnas di Balik Euforia Turnamen”¬†berkepanjangan sepak bola Indonesia menyebabkan masa depan suram bintang muda dan Timnas. Usai laga Piala Sudirman yang berhasil dimenangkan Mitra Kukar setelah menaklukkan Semen Padang beberapa bintang baru bermunculan. Tidak hanya kemeriahan perayaan trofi berwarna emas yang masih terasa hingga saat ini, tapi juga cerita performa beberapa bintang muda lapangan mulai sering diperbincangkan.

Masa Depan Suram Bintang Muda dan Timnas di Balik Euforiamen

Kemunculan Bintang Baru Usai Turnamen

Turnamen Piala Sudirman yang baru saja berlalu itu ternyata tidak hanya mencetak wajah baru sebagai jago lapangan, tapi juga menghasilkan beberapa pemain muda berbakat. Sebut saja Yogi Rahardian, yang baru berusia 20 tahun ini, pernah mencicipi di akademi Leicester City selama satu bulan. Selama turnamen ia berhasil menciptakan 3 gol, termasuk tendangan di menit terakhir ke gawang Semen Padang.

Gerakan cepat, dan kemampuan menggiring kulit bundar di tengah lapangan, serta teknik eksekusi ke gawang lawan menjadi senjata pemain jebolan SAD Uruguay ini. Yogi mengaku senang dan bangga berhasil mencetak gol untuk timnya. Apalagi ini pertama kalinya Mitra Kukar, klub asal Kalimantan menjadi juara turnamen.

Satu lagi bintang muda berbakat yang layak diperhitungkan adalah Yanto Rudolf Basna. Bek asal Papua ini mampu menunjukkan kualitas permainannya di lapangan hijau. Bahkan, bakatnya mengungguli performa senior-seniornya. Pemuda usia 20 tahun ini terbukti menjaga kesolidan pertahanan Mitra Kukar. Lawan main dibuat tidak berkutik dengan permainan tangkas dan lugas jebolan tim U-19 ini. Tidak heran, jika gelar pemain terbaik Piala Sudirman disandang Yanto.

Sebelumnya, Yanto tidak diperhitungkan untuk tampil di lapangan dan harus sabar menunggu di bangku cadangan selama turnamen Piala Presiden. Namun, berkat tekad yang kuat dan rasa percaya diri, ia berhasil meyakinkan pelatih untuk mempercayakan permainan padanya. Keputusan pelatih untuk menerjunkan Yanto di Piala Sudirman ternyata keputusan yang tepat.

Dalam pernyataannya Yanto menegaskan bahwa sebagai pemain muda, membutuhkan jam terbang tinggi. Semakin banyak menit bertanding, maka kemampuan mengolah kulit bundar juga semakin matang. Kuncinya hanya tekad kuat dan semangat tinggi untuk berlatih keras.

Masa Depan Bintang Muda

Kemunculan bintang muda di ajang turnamen nasional tersebut memang membanggakan. Namun, muncul beberapa pertanyaan lanjutan mengenai kelanjutan bakat-bakat muda tersebut. Kapan Yogi dan Yanto dapat merasakan tampil di level internasional bersama timnas Indonesia? Dengan kondisi sepak bola Indonesia saat ini yang tengah terbelit sanksi FIFA.

Sanksi FIFA yang merupakan ‘buntut’ dari konflik antara Kemenpora dan PSSI ini tampaknya masih belum menemukan titik terang. Selama konflik belum reda, sepertinya sepak bola Indonesia akan terus bermain di skala regional saja. Pemain berbakat, seperti Yogi dan Yanto tidak akan memiliki kesempatan untuk mengasah kemampuannya berlaga dengan lawan yang lebih kuat.

Sebenarnya, para stakeholder sepak bola Indonesia bukannya tidak pernah merencanakan liga. Hanya saja rencana tersebut selalu terhambat dengan pihak Kemenpora. Pemerintah memberlakukan aturan yang sangat ketat kepada PT Liga Indonesia selaku regulator kompetisi.

Wacana liga makin dipertanyakan dengan realisasinya setelah Menpora, Imam Nahrowi mengungkapkan rencananya untuk menggelar beberapa turnamen selama beberapa bulan ke depan. Pernyataan Menpora ini memupuskan harapan para pemain muda yang berharap lebih bersinar dan memiliki masa depan yang lebih baik dengan sepak bola. Dengan adanya turnamen, maka kontrak pemain hanya berjalan singkat. Berbeda dengan adanya kompetisi yang lebih menjamin keberlangsungan karir pemain.

Tidak hanya para pemain baru, pemain senior dan pelatih juga menyayangkan kebijakan pemerintah tersebut. Semua insan sepak bola merindukan kompetisi di tanah air. Turnamen yang diadakan selama ini, meskipun memberikan nafas pada persepakbolaan Indonesia yang sedang mati suri, tidak memberikan efek positif pada pemain dan pelatih.

Perkembangan sepak bola Indonesia ke depannya hanya dapat ditentukan melalui kompetisi yang berlangsung secara reguler. Dampak kompetisi terhadap pemain juga lebih positif, sebab kompetisi yang terukur dan sistematis dapat membuat masa depan pemain lebih jelas. Status kontrak pemain lebih jelas dengan adanya kompetisi reguler. Oleh sebab itu, sudah seharusnya pemerintah memberikan jalan keluar pada permasalahan ini, agar masa depan suram bintang muda dan Timnas tidak terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *